Jangan Sepelekan Mata Lelah Demi Buku yang Kita Sayangi
Saya masih ingat betul malam itu. Hujan rintik-rintik jatuh di luar jendela, aroma teh melati memenuhi ruang baca, dan saya tengah membolak-balik halaman sebuah komik antik berjudul Rose of Versailles . Kertasnya sudah menguning, bagian punggungnya mulai rapuh, tapi entah mengapa, membaca buku lama selalu memberi sensasi yang tak tergantikan. Namun belum sampai setengah buku, mata saya mulai terasa panas, sepet, lalu lelah. Akhirnya, saya menyerah. Buku itu harus saya tutup. Bukan karena bosan, tapi karena mata saya tidak sanggup melanjutkan. Sebagai pecinta buku saya terbiasa duduk berjam-jam membaca, mencatat, atau sekadar memeriksa kondisi koleksi. Tapi baru belakangan saya sadar, ternyata ada harga yang diam-diam dibayar mata saya: mata kering . Saya pikir, "Ah cuma mata pegal." Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Buku dan Mata: Dua Aset Berharga yang Harus Dirawat Sering kali kita terlalu fokus merawat buku—dari menyampulnya dengan plastik bebas asam, mena...