Jangan Sepelekan Mata Lelah Demi Buku yang Kita Sayangi
Saya masih ingat betul malam itu. Hujan rintik-rintik jatuh di luar jendela, aroma teh melati memenuhi ruang baca, dan saya tengah membolak-balik halaman sebuah komik antik berjudul Rose of Versailles. Kertasnya sudah menguning, bagian punggungnya mulai rapuh, tapi entah mengapa, membaca buku lama selalu memberi sensasi yang tak tergantikan. Namun belum sampai setengah buku, mata saya mulai terasa panas, sepet, lalu lelah. Akhirnya, saya menyerah. Buku itu harus saya tutup. Bukan karena bosan, tapi karena mata saya tidak sanggup melanjutkan.
Sebagai pecinta buku saya terbiasa duduk berjam-jam membaca, mencatat, atau sekadar memeriksa kondisi koleksi. Tapi baru belakangan saya sadar, ternyata ada harga yang diam-diam dibayar mata saya: mata kering.
Saya pikir, "Ah cuma mata pegal." Tapi ternyata tidak sesederhana itu.
Buku dan Mata: Dua Aset Berharga yang Harus Dirawat
Sering kali kita terlalu fokus merawat buku—dari menyampulnya dengan plastik bebas asam, menaruh silica gel di rak, sampai mengatur pencahayaan ruangan agar koleksi tidak cepat pudar. Tapi, seberapa sering kita memberi perhatian yang sama pada kesehatan mata, organ utama yang membuat kegiatan membaca itu mungkin?
Saya dulu tipe yang kalau sedang asyik membaca bisa lupa segalanya. Tapi tanda-tanda seperti mata sepet, perih, dan lelah ternyata bukan hal kecil. Semua itu adalah gejala mata kering yang tak bisa lagi saya anggap enteng.
Gejala Mata Kering yang Harus Diwaspadai: SePeLe
Banyak dari kita menganggap remeh keluhan pada mata saat membaca. Padahal ada tiga tanda utama yang jadi sinyal penting:
- Sepet: Mata terasa kaku dan tidak nyaman saat melihat dalam waktu lama. Biasanya saya alami setelah baca artikel panjang di tablet.
- Perih: Seolah ada pasir halus yang masuk ke mata. Ini paling sering muncul ketika membaca buku dengan pencahayaan minim.
- Lelah: Bahkan setelah tidur cukup, mata masih terasa berat dan cepat capek saat fokus.
Gabungan tiga gejala ini sering saya singkat sebagai SePeLe: Sepet, Perih, Lelah. Tapi justru dari yang tampaknya sepele inilah, masalah serius bisa muncul. Jadi, jangan anggap enteng ya. #MataKeringJanganSepelein
Cerita tentang Buku Lama dan Mata yang Mulai ‘Protes’
Satu buku yang sangat saya sayangi adalah Kumpulan Cerpen Mochtar Lubis edisi pertama. Dicetak tahun 1980-an, saya dapatkan dari pasar loak dengan harga yang jauh lebih murah dari nilai sentimentalnya. Sampulnya saya lapisi plastik bening, bagian dalamnya saya beri alas kertas bebas asam agar tidak lembap, bahkan saya simpan dalam kotak kedap udara. Tapi suatu malam, saat saya sedang membaca salah satu cerpennya, mata saya terasa sangat perih. Seperti ada asap yang menempel di kelopak.
Waktu itu saya mengira karena sedang flu, tapi besoknya, dan besoknya lagi, gejalanya tetap muncul. Akhirnya saya berkonsultasi dengan dokter mata, dan ternyata saya mengalami sindrom mata kering ringan. Salah satu penyebabnya: terlalu lama membaca tanpa istirahat, ditambah ruangan dengan sirkulasi udara yang kurang optimal.
Solusi: Rawat Bukumu, Rawat Juga Matamu
Saya mulai melakukan beberapa perubahan kecil tapi signifikan:
- Atur waktu baca: Setiap 30 menit membaca, saya berhenti sejenak untuk melihat benda jauh selama 20 detik. Metode ini dikenal sebagai aturan 20-20-20.
- Cahaya alami lebih baik: Saya mulai membaca di dekat jendela, memanfaatkan sinar matahari pagi yang lembut.
- Gunakan humidifier: Terutama di ruangan ber-AC agar kelembapan tetap terjaga.
- Tetes mata sebagai pertolongan pertama: Sejak rutin mengalami keluhan SePeLe, saya selalu sedia INSTO DRY EYES. Tetesan kecilnya mampu membantu meredakan mata yang mulai perih dan kering.
Kalau kamu juga sering mengalami mata sepet, perih, dan lelah, jangan tunggu sampai mengganggu aktivitas. Tetesin Insto Dry Eyes dan rasakan bedanya. Cairannya terasa ringan dan tidak perih, sangat cocok untuk kita yang hobi membaca atau bekerja di depan layar sepanjang hari.
Menjaga Keseimbangan: Jangan Hanya Fokus ke Buku
Kita boleh sangat mencintai buku, merawatnya sepenuh hati, menyimpannya seperti permata. Tapi jangan lupa, mata kita pun layak diberi perhatian yang sama. Karena apa gunanya buku-buku indah itu kalau kita tak sanggup lagi membacanya dengan nyaman?
Sejak rutin menggunakan INSTO DRY EYES, saya lebih bisa menikmati waktu membaca tanpa terganggu keluhan mata. Bahkan buku-buku tua yang dulu hanya bisa saya baca sepintas, kini bisa saya nikmati lebih lama.
Jadi mulai sekarang, jangan sepelekan tanda-tanda kecil pada mata. Karena bisa jadi itu cara tubuh kita memberi peringatan. Jangan biarkan mata kering jadi penghalang kita menjelajahi dunia melalui halaman-halaman buku.
#InstoDryEyes #MataKeringJanganSepelein


Comments
Post a Comment